Hello strangers!
Hayoo ngacung, siapa yang gak pernah denger nama Pramoedya Ananta Toer???
Hayoo ngacung, siapa yang gak pernah denger nama Pramoedya Ananta Toer???
*may he rest in peace, amin*
Agak curiga nih, jangan2 anak muda jaman sekarang gak tau yaa? *berasa tua :p* Padahal bukunya udah mayan banyak yang dicetak ulang.
Gw sendiri pertama denger namanya pas jaman SMA kali yah, trus mulai hunting buku2nya pas jaman kuliah, tapi dulu cuma bisa ngandelin beli buku bekas. Karena jaman kepemimpinan Pak Harto (alm), buku2 Pak Pram ini dibakar (dikumpulin dulu kemudian dibakar massal). Parah ya? Gw waktu itu cuma bisa bertanya2, kenapa juga harus dibakar, padahal banyak karya Pak Pram yang dapat penghargaan internasional, kok bisa yah malah negerinya sendiri tidak menghargai??
Beruntunglah gw karena gak lama kemudian penerbit Lentera mencetak ulang beberapa *catet yaa hanya beberapa lho, denger2 karena ada karya Pak Pram yang bener2 gak ada copy Bahasa Indonesianya, miris*
Buku pertama yang gw baca adalah Bukan Pasar Malam, hasil pinjem kakak dan gw langsung sukaaaaaa. Buku perdana yang gw beli adalah Bumi Manusia. Keren! Gak heran Pak Pram banyak dapat penghargaan, terlihat dari caranya merangkai kata, gimana ceritanya mengalir, karakter tokoh yang kuat, nilai & pesan yang diperoleh dari ceritanya.
Sekedar mengingatkan Bumi Manusia ini buku pertama dari tetralogi pulau Buru yang lahir pada saat beliau ditahan (Pak Pram bolak balik jadi tahanan pada masa itu) dan segala peralatan tulis dijauhkan darinya. Kebayang sih seseorang seperti beliau gak akan pernah bisa dibungkam pemikirannya dengan cara apapun, termasuk menjadikan beliau sebagai tahanan dan menjauhkan alat tulis. Terbukti lhoo, karena Pak Pram menceritakan kisah ini ke teman2nya selama di Pulau Buru. Yup, menceritakan! bukan menulis! *kali deh bukunya tipis, lhaa ini tebel aja dan 4 jilid*
Sekedar mengingatkan Bumi Manusia ini buku pertama dari tetralogi pulau Buru yang lahir pada saat beliau ditahan (Pak Pram bolak balik jadi tahanan pada masa itu) dan segala peralatan tulis dijauhkan darinya. Kebayang sih seseorang seperti beliau gak akan pernah bisa dibungkam pemikirannya dengan cara apapun, termasuk menjadikan beliau sebagai tahanan dan menjauhkan alat tulis. Terbukti lhoo, karena Pak Pram menceritakan kisah ini ke teman2nya selama di Pulau Buru. Yup, menceritakan! bukan menulis! *kali deh bukunya tipis, lhaa ini tebel aja dan 4 jilid*
Setelah dua buku ini, barulah gw mulai mengumpulkan buku2 lainnya. Gw pribadi gak pernah menganggap beliau komunis (anggapan komunis karena beliau pernah tergabung dalam Lekra), justru menurut gw beliau itu nasionalis sejati. Siapapun yang baca bukunya, pasti tergerak untuk melakukan perubahan, mencari keadilan. Mungkin saja buku Pak Pram dinilai mengusik? atau mengancam ketenangan? Well, maybe.
Tidak mengejutkan ketika Pak Pram meninggal, banyak yang kehilangan seorang maestro di dunia sastra, because he is J.
Teeengs Pak untuk karya2 yang kau tinggalkan bagi dunia sastra Indonesia.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.